Setelah melemparkan Lynx dan Karim ke jurang, Kargo melanjutkan perjalanan dengan sombong sambil memperlihatkan senjata barunya dengan angkuh. Meeka membawa Leena, Sherly, dan para tawanan lainnya, meninggalkan bayangan kekalahan di hutan.

Leena, Sherly, dan Aliah berjalan dengan kepala tertunduk. Mata mereka sembab oleh tangis, tubuh mereka lelah oleh rasa putus asa. Perjalanan bersama para tawanan lainnya semakin berat karena harus membawa barang-barang rampasan dari kamp sebelumnya.

Leena terus menundukkan pandangannya, menggigit bibir agar tidak menangis lagi. Namun, setiap kali bayangan tubuh Lynx yang dilempar ke jurang melintas di pikirannya, ia tidak mampu menahan air mata.

“Aku... aku seharusnya bisa melakukan lebih banyak,” bisiknya pelan, hampir tidak terdengar.

Sherly, yang berjalan di sampingnya, menatap lurus ke depan, ekspresi wajahnya dingin. Namun, jemarinya menggenggam erat tali pengikat di pergelangan tangannya, tanda ia juga menahan perasaan.

“Jangan salahkan dirimu, Leena,” katanya akhirnya dengan nada rendah. “Lynx tahu apa yang dia lakukan. Dia selalu memilih untuk melindungi kita.”

Aliah, yang berjalan di belakang mereka, sesekali menoleh ke arah Leena. Gadis itu masih terkejut oleh kematian kakaknya, Karim, tetapi ia tidak bisa memproses kesedihannya dengan lantang. Saat itu dia terlalu kaget dan tidak menduga dengan kedatangan kakaknya sehingga tidak banyak merespon.

"Siapa kalian, kenapa bisa bersama kakakku?" Tanya Aliah.

"Kami teman kakakmu, rencana ingin menyelamatkanmu.. tapi..." Leena tidak sanggup melanjutkan kata-katanya.

“Apa menurut kalian...” Aliah mulai berbicara, tetapi suaranya pecah. Ia menarik napas, berusaha menenangkan dirinya. “Apa menurut kalian ada cara bagi kita untuk membalas mereka? Untuk menghentikan ini semua?”

Leena menoleh perlahan, matanya penuh dengan api kemarahan yang tertahan. “Kita tidak bisa melakukannya dalam keadaan ini. Tapi percaya padaku, Aliah. Saat waktunya tiba, aku akan memastikan mereka membayar.” Dalam hati , ia berdoa agar keajaiban bisa terjadi—agar Lynx masih hidup entah bagaimana caranya.

Sementara itu Sherly sedang memikirkan cara untuk bisa merayu pimpinan Monrest agar dapat membebaskan dirinya bahkan mengambil keuntungan dari kekuatan mereka.

Di dasar jurang yang dalam, tubuh Lynx tergeletak tak bergerak di antara bebatuan kasar. Cahaya matahari siang menembus celah-celah jurang, menyinari tubuhnya yang penuh luka. Namun, sesuatu yang luar biasa mulai terjadi.

Dari pusat tubuh Lynx, tepat di bawah pusarnya, muncul cahaya emas yang perlahan semakin terang. Cahaya itu bergerak seperti bara api yang ditiup angin, menyelimuti tubuh Lynx dengan aura yang hangat dan mendalam. Luka-lukanya mulai menutup, darah yang mengalir berhenti, dan napasnya yang semula lemah kembali normal.

Energi itu tidak hanya menyembuhkan tubuhnya, tetapi juga membangkitkan sesuatu yang jauh lebih besar di dalam dirinya. Akar spiritual yang selama ini tertidur mulai terbangun, melepaskan kekuatan yang belum pernah Lynx rasakan sebelumnya.

Sementara itu di tengah markas Monrest, sebuah altar kuno berdiri megah di bawah sinar matahari siang. Batu-batunya yang besar dan kasar dihiasi dengan ukiran simbol-simbol tua yang menceritakan legenda leluhur mereka. Biasanya, altar itu tampak tenang dan tidak aktif, tetapi hari ini sesuatu yang tidak biasa terjadi.

Tiba-tiba, sinar emas yang sama seperti yang menyelimuti tubuh Lynx memancar dari altar itu. Sinar itu melesat ke langit, bersinar terang di bawah terik matahari, membuat burung-burung beterbangan dengan panik dari pohon-pohon sekitar.

Seorang dukun tua yang menjaga altar terkejut. Ia menatap sinar itu dengan mata terbelalak, tubuhnya gemetar.

“Ini... tidak mungkin,” gumamnya. “Leluhur kita... kekuatannya bangkit?”

Dengan langkah tergesa-gesa, ia berlari menuju tenda kepala suku. Di dalam tenda, kepala suku, seorang pria besar dengan wajah garang dan mata tajam, sedang berbicara dengan para pengikutnya.

“Kepala Suku! Sinar di altar telah bangkit!” seru dukun itu dengan suara serak, tubuhnya membungkuk hormat.

Kepala suku mendongak dengan tatapan tajam. “Apa kau yakin?” tanyanya, suaranya berat seperti petir.

“Aku melihatnya dengan mataku sendiri. Ini pertanda. Leluhur kita telah memberi isyarat, tetapi... ini terlalu cepat. Sesuatu telah membangkitkan kekuatan itu.”

Kepala suku berdiri dari tempat duduknya, menghunus pedangnya dengan gerakan tegas. “Kalau begitu, kita harus memastikan apa yang terjadi. Kumpulkan prajurit. Jika ada yang berani mengusik kekuatan leluhur kita, mereka harus dihancurkan.”

Sementara itu, di dasar jurang, Lynx perlahan membuka matanya. Ia terengah-engah, merasakan panas yang membakar di bawah pusarnya. Tubuhnya terasa ringan, penuh energi, tetapi juga sulit dikendalikan. Sensasi panas yang semakin meningkat di bawah pusarnya menyebar ke seluruh tubuhnya, seperti api yang membakar setiap selnya. Tubuhnya terasa seolah-olah meledak oleh energi yang tidak bisa ia kendalikan. Tetapi perlahan, rasa panas itu berubah menjadi sesuatu yang lain—rasa ringan, kuat, dan penuh kekuatan.

Lynx bangkit perlahan, meraba tubuhnya yang sebelumnya penuh luka. “Aku... sembuh?” gumamnya dengan tak percaya.

Ia memandang tangannya yang berpendar dengan cahaya emas samar, lalu mengepalkan tinjunya. Energi itu terasa kuat, seperti gelombang air panas yang mengalir melalui tubuhnya.

“Apa... ini?” Lynx bergumam dalam ketidaksadarannya.

Ia bangkit perlahan, tubuhnya terasa ringan seperti bulu. Tidak hanya itu, setiap gerakan yang ia lakukan terasa penuh tenaga, seolah-olah ia memiliki kekuatan yang belum pernah ia miliki sebelumnya.

Lynx mengangkat tangannya, memandangnya dengan heran. Energi lembut berwarna emas samar-samar berpendar dari kulitnya, lalu menghilang.

“Apa yang terjadi padaku?”

Ia teringat pil yang diberikan Leena, dan kesadaran mulai masuk. “Itu... pasti karena pil itu. Tapi bagaimana ini mungkin?”

Lynx memandang sekeliling dan menemukan Karim terbaring tidak jauh darinya. Tubuh Karim pucat, napasnya lemah, dan darah mengalir dari luka besar di dadanya.

“Karim!” seru Lynx, bergegas mendekatinya. Ia memeriksa denyut nadinya, hampir tidak terasa.

“Aku tidak tahu apakah aku bisa menolongmu... Tapi aku tidak akan menyerah,” gumam Lynx, mencoba menenangkan dirinya.

Ia teringat sesuatu dari film yang pernah ia tonton di TV—tentang bagaimana tenaga dalam bisa digunakan untuk menyembuhkan orang lain.

“Kalau itu benar...” Lynx memandang telapak tangannya yang kini terasa penuh energi. “Aku bisa mencobanya.”

Lynx memejamkan matanya, mencoba fokus. Ia menarik napas dalam-dalam, membiarkan rasa panas dari pusat tubuhnya mengalir ke tangannya. Sensasi energi yang terasa seperti aliran air panas mulai bergerak ke telapak tangannya.

Dengan hati-hati, ia meletakkan tangannya di atas luka Karim. “Bertahanlah, Karim. Aku akan mencoba sesuatu.”

Lynx memvisualisasikan energinya mengalir ke tubuh Karim, membayangkan cahaya emas menyelimuti luka-lukanya. Perlahan, ia merasakan tubuh Karim merespons. Luka di dadanya mulai berhenti berdarah, dan napasnya yang lemah menjadi lebih stabil.

“Berhasil...” Lynx berbisik, hampir tidak percaya. Ia terus menyalurkan energi sampai kondisi Karim membaik.

Setelah energi Lynx habis untuk sementara, ia merangkak ke sekitar, mencari tanaman herbal yang pernah ia pelajari. Tidak jauh dari tempat itu, ia menemukan daun hijau besar dengan aroma khas yang ia kenali sebagai tanaman penyembuh.

Ia mengunyah daun itu hingga menjadi pasta, lalu mengoleskannya di luka Karim. “Ini akan membantu mempercepat penyembuhanmu,” katanya sambil mengikat luka dengan kain robek dari pakaiannya.

Karim mengerang pelan, kelopak matanya mulai terbuka sedikit.

“Lynx...?” gumamnya lemah.

“Aku di sini,” jawab Lynx dengan lembut, meskipun tubuhnya juga lelah. “Istirahatlah. Kau akan baik-baik saja.”

Lynx duduk di samping Karim, memandang langit yang terlihat dari sela-sela jurang. Ia mengepalkan tangannya, merasakan energi yang masih mengalir di tubuhnya. Dia bisa merasakan ada energi masuk ke tubuhnya, terutama dari sinar matahari.

“Aku tidak tahu bagaimana ini terjadi, tetapi aku tahu satu hal,” katanya pada dirinya sendiri. “Aku tidak akan membiarkan Kargo lolos. Leena, Sherly, dan Aliah... Aku akan datang untuk kalian.”

Dengan tubuh yang pulih dan kekuatan baru yang ia temukan, Lynx merasa siap menghadapi ancaman apapun. Tetapi untuk saat ini, ia harus memastikan Karim selamat dan menyusun rencana untuk kembali ke atas jurang.

“Kargo, aku akan memastikan kau membayar untuk semuanya,” gumam Lynx, matanya memancarkan tekad yang tak tergoyahkan.

Lynx menatap Karim yang mulai sadar, meskipun tubuhnya masih lemah. Luka-luka di tubuh pemuda itu telah diperban, dan nafasnya tidak lagi tersengal.

“Karim,” kata Lynx dengan nada serius. “Kau harus tinggal di sini dan memulihkan dirimu. Aku akan pergi menyelamatkan Leena, Sherly, dan Aliah.”

Karim mencoba bangkit, meskipun tubuhnya masih lemah. “Tidak mungkin aku tinggal di sini! Itu adikku yang mereka tangkap! Aku tidak bisa hanya diam dan menunggu!”

Lynx menggeleng, matanya tajam. “Kau masih terlalu lemah. Kalau kau ikut, itu hanya akan membahayakan kita berdua. Aku sudah cukup kehilangan orang-orang yang aku pedulikan. Jadi, kali ini dengarkan aku.”

Karim membuka mulutnya untuk membantah, tetapi Lynx menatapnya dengan tegas. “Aku janji, aku akan membawanya kembali. Kau harus percaya padaku.”

Setelah beberapa saat, Karim akhirnya mengangguk perlahan, meskipun wajahnya menunjukkan rasa enggan. “Baiklah. Tapi jika kau tidak kembali... aku sendiri yang akan mengejar mereka, entah apa pun yang terjadi.”

Lynx tersenyum tipis. “Kau tidak perlu melakukannya. Aku akan kembali—dengan mereka.”

Setelah memastikan Karim aman dan energinya terasa pulih, Lynx berdiri dan memandang ke atas. Dinding jurang tampak menjulang tinggi, hampir mustahil didaki. Tapi Lynx tahu ia harus mencoba.

“Baiklah... mari kita lihat apa yang bisa aku lakukan sekarang,” gumamnya sambil mengatur napas.

Ia mengambil ancang-ancang, lalu melompat. Tubuhnya melesat ke udara dengan kekuatan luar biasa, jauh lebih tinggi daripada yang ia perkirakan.

“Wah!” Lynx berteriak kaget ketika ia melesat melewati cabang pohon yang tinggi, dan tubuhnya mulai kehilangan keseimbangan. Ia terjatuh dengan keras ke tanah, meskipun tubuhnya mendarat dengan cukup lentur untuk mencegah cedera.

Karim yang melihat itu melongo, matanya membesar. “Apa... itu tadi? Bagaimana kau bisa melompat setinggi itu?!”

Lynx terdiam sejenak, menatap kedua tangannya. Ia mulai tersenyum, lalu tertawa kecil. “Aku tidak tahu pasti... tapi sepertinya tubuhku berubah. Aku punya kekuatan yang belum pernah aku miliki sebelumnya.”

Karim mengerutkan kening, masih tidak percaya. “Itu mustahil. Kau melompat seperti... seperti kau bukan manusia lagi!”

Lynx bangkit berdiri dan menyeringai. “Mungkin aku memang bukan manusia biasa sekarang. Tapi aku tahu satu hal—kekuatan ini akan membantu kita.”

Lynx menatap pohon-pohon besar di sekitar jurang. Ia mengambil napas dalam-dalam, lalu melompat lagi. Kali ini, ia lebih siap. Tubuhnya melesat ke udara, dan ia berhasil meraih cabang pohon dengan mudah.

Saat berpindah dari satu pohon ke pohon lain, Lynx merasa ada sesuatu yang berubah dalam dirinya. Dunia di sekitarnya tampak melambat, setiap gerakan angin, daun, dan ranting terlihat begitu jelas. Ia merasa seperti memiliki kontrol penuh atas tubuhnya.

“Ini luar biasa...” Lynx bergumam sambil melompat dengan lincah dari cabang ke cabang, bahkan lebih cepat daripada seekor monyet.

Ia berhenti sejenak di salah satu cabang besar, melihat pemandangan di sekitarnya. Napasnya stabil, tubuhnya terasa ringan, dan keseimbangannya sempurna.

“Aku bisa merasakan semuanya,” pikirnya. “Setiap gerakan, setiap perubahan angin... Ini seperti aku menjadi satu dengan lingkungan di sekitarku.”

Ia melompat lagi, kali ini lebih cepat dan lebih tinggi. Setiap kali kakinya menyentuh cabang, ia merasakan getarannya, memungkinkan dirinya bergerak dengan akurasi yang luar biasa.

“Tunggu aku, Leena. Aku akan datang menyelamatkanmu.”


